BEB, SAY, CIN….

Okay, kalau dari judulnya saya sedang tidak bermaksud untuk menggoda seseorang loh ya.

Kata sapaan ‘Beb, say dan Cin’, sering digunakan dalam percapakan sehari-hari untuk menggantikan nama orang yang sedang kita ajak bicara.

“hay cin, apa kabar?, atau “Say, kamu mau ke mana”, atau “Beib, udah lama ya ga ketemu”.  Sapaan seperti ini tidak mengartikan bahwa orang yang kamu sapa adalah orang yang kamu cintai atau kamu sayangi.

 

22120260591_52f615b77e_b

Source: here

Awalnya saya bukan pengguna kata sapaan seperti ini. Saya sangat jarang memanggil orang dengan ‘Say’ atau ‘Cin’. Saat itu saya berfikir, Munafik banget kalau saya memanggil orang yang baru kenal dengan kata sayang atau cinta, padahal saya tidak sayang atau cinta dengan orang tersebut.

Namun seiring populernya kata sapaan ini, sadly saya jadi pengguna kata sapaan ini.

Manfaat yang digunakan sebagai  pengguna kata sapaan ‘Say’, ‘Cint’, atau ‘Beb’  based on my experience adalah:

  1. kata ini bermanfaat untuk menyapa orang yang kita lupa namanya. “Sayyyy, udah lama gak ketemu, kangen” padahal dalam hati bingung namanya Erni atau Reni yaaaa.
  2. Kalau bertemu dengan orang baru dalam suasana informal (kadang formal) dan seumuran, kata sapaan ini dapat membuat suasana lebih santai dan mengakrabkan, sometimes berpotensi mendapat kesan SKSD (SOK KENAL SOK DEKAT)
  3. ini nih,sapaan ini paling manfaat ketika kita bingung saat menyapa beberapa pegawai salon, dan bingung mau bilang mas ato mbak, tinggal ganti sapaan tersebut dengan SAY! “Say, mau potong rambut nih…”

 

Btw Cint, Kamu pengguna kata sapaan semacam ini gak??

 

 

Farm House Lembang

It is Holiday here in Indonesia!

Dalam rangka merayakan moment libur lebaran saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bepergian ke luar kota. Pilihan kota kali ini adalah yang dekat-dekat saja. Saya dan keluarga memutuskan pergi ke tempat wisata yang lagi hitz di Bandung. Kali ini kami pergi ke Farm House Lembang. Setelah saya mengumpulkan data dari internet, saya cukup kaget karena biaya masuk ke Farm House Lembang cukup murah yaitu 20.000 rupiah.

Untuk menuju Farm House Lembang ini cukup mudah, Karena lokasinya terletak di Jalan Raya Lembang. Tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Namun, hal yang membuat kami lama sampai di tempat adalah karena banyaknya pengunjung yang datang ke tempat ini. Karena terlalu banyak jumlah kendaraan yang menuju Lembang, Petugas Polisi  Lalu Lintas melakukan rekayasa jalan, dengan membuat one way rute.

Menikmati suasana Farm House Lembang di saat Lebaran ternyata kurang tepat. Pengunjungnya benar-benar ramai, kebanyakan pengunjung datang dari luar kota. Untuk mencari parkiran mobil saja, kami memakan waktu sekitar 10 menitan.  Dari parkiran, kami kemudian berjalan kaki menuju farm house.

Dengan tiket seharga 20.000 pengunjung dapat menikmati spot-spot cantik untuk berfoto di dalam. Spot fotonya berupa bangunan ala Eropa, Rumah Hobbit, Rumah dengan suasana Amerika, dan suasana peternakan. Mungkin tempat wisata ini dibangun untuk memuaskan hasrat orang Indonesia yang doyan foto (laugh). Bayangkan saja, untuk berfoto di depan Rumah Hobbit Kami harus mengantri panjang!

IMG20160706154417[1]

salah satu spot foto di sana, ini hanya 1 dari sekian 😛

Oh ya, ternyata tiket yang kita beli tadi dapat ditukarkan dengan susu segar atau  makanan yang ada di resto/ café. Kita cukup memberikan voucer makanan (yang berupa tiket masuk tadi), dan menambahkan nominal  harga yang kurang. Namun, saya kurang tau berapa harga satu tiket bila ditukarkan dengan makanan.  Tiket yang saya punya, saat itu saya tukarkan dengan satu gelas susu. Satu tiket berlaku untuk pengambilan satu gelas susu segar. Tersedia tiga varian rasa susu, yaitu rasa strawberry, coklat, dan plain. Yuumm jalan-jalan sambil minum susu segar…  TOP DEH!

IMG20160706143149[1]

Ini dia welcome drinknya, saya paling suka plain milk. Kalau yang lain sukanya susu dengan rasa.

 

Kalau kamu, apa kegiatan kamu saat libur lebaran?
Sekalian saya mau mengucapkan Happy Eid Mubarak untuk teman-teman yang merayakan 🙂

Buang Sampah Sembarangan

Beberapa hari belakangan, saya kesal sekali pada orang-orang yang buang sampah tidak pada tempatnya. Sepertinya hal yang wajar ya buang sampah sembarangan di Indonesia. Di jalanlah, di angkutan umumlah, atau bahkan di depan rumah orang. Buang sampah sembarangan itu sebenernya tindakan yang tidak bermoral loh. Tindakan amoral bukan hanya membunuh, memperkosa, dan melakukan kekerasan saja. Buang sampah sembarangan itu kan membunuh dan memperkosa bumi. Walaupun istilahnya sudah klise dan sering digunakan, sepertinya orang-orang sudah kebal dengan himbauan “buanglah sampah pada tempatnya” dan “kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Kemaren ada mbak-mbak cantik dengan make up yang bagus sedang kepanasan, dan mengelap keringat dengan tisunya. Abis ngelap keringatnya, si mbak malah buangin tisunya gitu aja. Ihhh- jadilah dia gak cantik lagi di mata saya. Kemudian, ada anak-anak yang bilang ke mamanya kalo minuman kemasannya udah abis dan si ibu dengan entengnya bilang “buang aja sampahya dari jendela dek”. Gimana anaknya bisa bersikap benar, kalo ibunya aja perlu diajari untuk tidak membuang sampah sembarangan?

62196210585buang-sampah

Image source: here

Dan satu lagi yang nyebelin, saya ingat ketika ada bapak-bapak  membuang sampah dari jendela mobilnya  di  jalan raya setelah keluar dari jalan tol.  Mobil mewahnya ternyata tidak berbanding lurus dengan sifatnya. Mungkin si Bapak berfikir “ gak apa-apa jalan raya kotor, yang penting mobil mewah saya tetap bersih”

13735152341884622577

Image source: here

Miris sekali melihat kesadaran masyarakat kita masih minim dalam hal membuang sampah. Tidak peduli berapa banyakpun tempat sampah yang telah disediakan, kita masih lebih suka melempar sampah dari jendela mobil. Gak heran sih, banjir sering terjadi di Indonesia, khususnya kota besar. Soalnya masyarakatnya sendiri tidak peduli dengan lingkungannya.

Hmm, gimana dengan kamu, kesal gak melihat orang yang buang sampah sembarangan? Atau malah biasa saja?

Pengamen yang Ngambek

 

Saya mau share pengalaman yang agak unik saat saya menumpang bus dari Jakarta menuju Bekasi.  Keberadaan pengamen di bus-bus  kota memang tidak bisa dihindari. Ibarat dimana ada bus, penumpang, maka pengamen akan langsung nyelinap naik untuk memamerkan kemampuan mereka dalam bernyanyi dan mendapatkan recehan demi recehan pastinya.

Saya agak tidak setuju sebenarnya mengenai keberadaan pengamen di Bus-bus kota. Keberadaan mereka kadang membuat masyarakat “dipaksa” untuk mendengarkan musik/ lagu yang sedang tidak ingin di dengar. Jadi mau tidak mau penumpang bus harus mendengar lagu yang mereka nyanyikan. Di satu sisi,  saya juga bingung dimana lagi tempat mereka untuk mencari receh demi receh dengan modal suara dan alat musik yang seadanya.  Kalau cafe atau restoran-restoran tertentu tentunya punya standar tersendiri dalam menyediakan penyanyi untuk menghibur pelanggan mereka.

Nah, balik lagi mengenai masalah pengamen ngambek ini. Saya ingat seorang pengamen laki-laki masuk ke bus dari depan daerah semanggi. Pengamen tersebut memberi kata-kata pembuka sebelum menyanyikan lagu-lagu andalannya. Dia berdiri tepat di pertengahan gang bus, agar semua penumpang dapat mendengar suaranya. Di posisi tenggah, tepat di hadapan pengamen ini duduk tiga orang gadis (seperti anak kuliah yang baru pulang) yang sedang seru-serunya bercerita.

pengamen 2

Image source : http://s27.postimg.org/kzwnt56tv/ogxgkz.jpg

Pengamen ini mulai menyanyikan lagu dalam berbahasa Indonesia. Menurut saya suaranya juga lumayan bagus. Seiring perjalanan dan sudah masuk daerah tol, suara pengamen ini masih setia menemani perjalanan penumpang dari Jakarta-Bekasi.  Di dalam Bus penumpangnya cukup banyak, namun tidak berisik. Tetap yang masih terdengar hanya beberapa perbincangan antara tiga anak kuliahan tersebut berpadu dengan suara pengamen tersebut.

Menjelang mendekati Jati Bening, pengamen tersebut menghentikan lagunya sambil memarahi ketiga anak kuliahan tersebut. Inti dari kalimatnya yang saya tangkap seperti ini “ Mbak, dari tadi saya lihat kalian berisik sekali. Nggak menghargai saya yang sedang menyanyi. Suara kalian mengganggu penumpang yang lain. Mikir dong kalian, saya sedang cari nafkah di sini. Kalau tidak mau dengar ya sudah, sayapun tidak akan meminta uang kalian kok “ (versi diperhalus).

Pengamen tersebut duduk ke belakang dan memang tidak meminta sepeserpun kepada penumpang. Namun yang menjengkelkan saya, pengamen tersebut duduk di belakang sambil tetap bercerita dengan suara yang keras betapa kecewanya dia dengan orang yang tidak menghargai orang lain, betapa jeleknya sifat tiga orang anak kuliahan tersebut.

Saya bingung dalam kasus ini sebenarnya yang salah siapa ya? Pertama-tama di dalam bus jelas-jelas ada peraturan pengamen dan tukang jualan dilarang naik demi kenyamanan penumpang. Di satu sisi tiga orang gadis tersebut adalah penumpang yang punya hak sebebas-bebasnya untuk bercerita dengan teman-temannya. Masalah berisik atau berisik mereka bercerita satu sama lain tergantung pendapat masing-masing penumpang. Menurut saya tingkat keberisikannya masih dalam tahap wajar kok.

Begitulah cerita pengamen yang ngambek, lelah di sore hari membuat emosinya tinggi, uangpun tidak jadi didapat, semoga di bus berikutnya pengamen ini mendapat rejeki yang melimpah ya… 🙂