Online Membantu, Saat Error Menggerutu

Pernah tidak sih teman-teman mengalami pembuka hari yang menyebalkan (Itulah istilah yang saya gunakan). Saya baru-baru ini mengalaminya. Saya sehari-hari pulang pergi kantor menggunakan transportasi online karena menurut saya itu cepat dan (agak) bebas macet.

Tempo hari dikarenakan hujan deras saya sengaja mengulur waktu, untuk menunggu si hujan sudah reda untuk memesan transportasi online. Saya pelanggan tetap untuk transportasi inisial G dan inisial U. Buka handphone, klik, alamat, klik order, dan taraaa ada ganggguan alias sistem error.  Muncul perintah untuk order kembali beberapa saat kemudian. Saya coba berulang-ulang untuk pesan tetap gagal.

 

tak-ada-habisnya-driver-ojek-online-jadi-sasaran-kejahatan

Image’s Source

Finally karena tujuh pesanan saya gagal, saya beralih ke merk lain, dan yang muncul adalah ‘driver is busy’.  Okay, saya ditolak 2 Brand transportasi online pertama kali L. Kemudian ada telfon masuk dari driver yang bertanya mau dijemput saya dimana. Duh, bingung donk saya, secara belum ada pesanan yang berhasil di layar handphone saya.  Saya bertanya ke drivernya, “Pak ini dari U atau dari G?” dan si Bapak Driver Bilang, “lha Mbak emang pesan Apa Mbak? “. Agak lucu juga sih pas saya jawab, “Saya tidak tau Pak, karena di Handphone saya tidak ada pesanan yang muncul Pak.

Hari itu saya naik pesenan online yang pertama telfon saya, dan sepanjang jalan yang saya lakukan adalah mengangkat telfon masuk, meminta maaf kepada enam driver lain dan meminta agar mereka cancel pesanan yang tidak muncul di layar handphone saya.Saya kesal sebenernya dengan sistem error di aplikasi G ini. Bener-bener merusak mood pagi hari saya. Biasanya online membantu  pekerjaan lebih mudah dan cepat,  eh yang ini malah merepotkan.

Sebenernya ini pertama kali saya mengalami sistem error ketika memesan ojek online. So, next mungkin tidak akan sekesal ini kali ya. Namanya juga aplikasi, sistem pasti kadang mengalami masalah, saya cukup bisa memahami  hal ini karena pekerjaan saya kadang juga melibatkan aplikasi yang program errornya muncul pada saat tertentu.Pagi hari di cuaca yang  dingin, pesanan ojek online membuat saya minta maaf berkali-kali ke driver, my morning mood terjun payung saat itu.

Advertisements

Pengamen yang Ngambek

 

Saya mau share pengalaman yang agak unik saat saya menumpang bus dari Jakarta menuju Bekasi.  Keberadaan pengamen di bus-bus  kota memang tidak bisa dihindari. Ibarat dimana ada bus, penumpang, maka pengamen akan langsung nyelinap naik untuk memamerkan kemampuan mereka dalam bernyanyi dan mendapatkan recehan demi recehan pastinya.

Saya agak tidak setuju sebenarnya mengenai keberadaan pengamen di Bus-bus kota. Keberadaan mereka kadang membuat masyarakat “dipaksa” untuk mendengarkan musik/ lagu yang sedang tidak ingin di dengar. Jadi mau tidak mau penumpang bus harus mendengar lagu yang mereka nyanyikan. Di satu sisi,  saya juga bingung dimana lagi tempat mereka untuk mencari receh demi receh dengan modal suara dan alat musik yang seadanya.  Kalau cafe atau restoran-restoran tertentu tentunya punya standar tersendiri dalam menyediakan penyanyi untuk menghibur pelanggan mereka.

Nah, balik lagi mengenai masalah pengamen ngambek ini. Saya ingat seorang pengamen laki-laki masuk ke bus dari depan daerah semanggi. Pengamen tersebut memberi kata-kata pembuka sebelum menyanyikan lagu-lagu andalannya. Dia berdiri tepat di pertengahan gang bus, agar semua penumpang dapat mendengar suaranya. Di posisi tenggah, tepat di hadapan pengamen ini duduk tiga orang gadis (seperti anak kuliah yang baru pulang) yang sedang seru-serunya bercerita.

pengamen 2

Image source : http://s27.postimg.org/kzwnt56tv/ogxgkz.jpg

Pengamen ini mulai menyanyikan lagu dalam berbahasa Indonesia. Menurut saya suaranya juga lumayan bagus. Seiring perjalanan dan sudah masuk daerah tol, suara pengamen ini masih setia menemani perjalanan penumpang dari Jakarta-Bekasi.  Di dalam Bus penumpangnya cukup banyak, namun tidak berisik. Tetap yang masih terdengar hanya beberapa perbincangan antara tiga anak kuliahan tersebut berpadu dengan suara pengamen tersebut.

Menjelang mendekati Jati Bening, pengamen tersebut menghentikan lagunya sambil memarahi ketiga anak kuliahan tersebut. Inti dari kalimatnya yang saya tangkap seperti ini “ Mbak, dari tadi saya lihat kalian berisik sekali. Nggak menghargai saya yang sedang menyanyi. Suara kalian mengganggu penumpang yang lain. Mikir dong kalian, saya sedang cari nafkah di sini. Kalau tidak mau dengar ya sudah, sayapun tidak akan meminta uang kalian kok “ (versi diperhalus).

Pengamen tersebut duduk ke belakang dan memang tidak meminta sepeserpun kepada penumpang. Namun yang menjengkelkan saya, pengamen tersebut duduk di belakang sambil tetap bercerita dengan suara yang keras betapa kecewanya dia dengan orang yang tidak menghargai orang lain, betapa jeleknya sifat tiga orang anak kuliahan tersebut.

Saya bingung dalam kasus ini sebenarnya yang salah siapa ya? Pertama-tama di dalam bus jelas-jelas ada peraturan pengamen dan tukang jualan dilarang naik demi kenyamanan penumpang. Di satu sisi tiga orang gadis tersebut adalah penumpang yang punya hak sebebas-bebasnya untuk bercerita dengan teman-temannya. Masalah berisik atau berisik mereka bercerita satu sama lain tergantung pendapat masing-masing penumpang. Menurut saya tingkat keberisikannya masih dalam tahap wajar kok.

Begitulah cerita pengamen yang ngambek, lelah di sore hari membuat emosinya tinggi, uangpun tidak jadi didapat, semoga di bus berikutnya pengamen ini mendapat rejeki yang melimpah ya… 🙂