How Aggressive the E-commerce today!

How many E-commerce apps do you have on your smart phone? 1,2,3 or more?

I myself install 3 e-commerce apps on my phone. In the beginning, I rarely use these apps for shopping. I use these apps just to make price comparison from the product in conventional market to what it sells in online stores.

situs-e-commerce

image source : here

Next time I just want to check what kind of product they sell in online store, and it brings me to be a buyer. A little bit surprise, I found they sell the various products with various prices also. The filter key also helps us to buy a product based on our budget limit. I buy a hand phone from Lazada finally. The app is easy to use because this app is mobile friendly, the description of product is good, and the delivery time is quite fast.  My hand phone arrived after two days. After first transaction in Lazada, I become the regular buyer from online store apps :D. I bought makeup, bag, and even for soap I prefer to buy it from online store.

peringkat e-commerce di Indonesia.jpg

image source : here

Lately, the marketing strategies of online stores are getting wild. It cannot be denied that the competition between online stores happen because there are so many online store in Indonesia and worldwide. I install three e-commerce apps; Lazada, Shopee, and Tokopedia. From my research, they use Flash sale as a technique sale, to boost the visitor in their app, and to boost the transaction. How it works? These three apps, will sale some product in limited time. For example, they do flash sell 50 rice cookers at 12.00. At 12.10 the rice cookers have sold out. These three apps use flash sale technique with different time and various products. I usually check flash sale in Shopee app, because this app usually sale so many products in certain hours.

Flash Sale Xiaomi Redmi 5A di Lazada - Lazada.co.id

image source : here

In this Ramadan month, the level of Indonesian product consumption is higher than the previous months. Many workers get their THR (Religious holiday allowance) this month. The online shops take this moment to do Ramadan big sale.

The E-commerce apps do unmitigated promotion apps to pull people to visit. Moreover, two apps that I mention above promote their sale in two different national televisions. I just surprised how ambitious and aggressive e-commerce apps nowadays. One more time I remember when a pop up adv. blocked my article to show an e-commerce promotion.

The competition between e-commerce apps is very interesting for me to be seen. The new e-commerce app is possible to be new and new every day. Today people are so innovative in many ways. Including open an online store to sell a certain product, release a new promotion to pull people attention. It always interesting for me to see how people could be so innovative in this competitive digital era.

Advertisements

The Danish Girl : Movie Review and short Article

danish

image source : here

I never expected before that I am going to love this movie!

The movie tells about transformation of a man named Einar Magnus Andreas Weneger from a man to a woman. What interesting about this movie is when I see how a person loses his or her identity, and tries in various ways to find himself.

Einar Weneger starts to admire women stuffs such as beautiful dress, satin pajamas and cosmetics. He uses women dress and cosmetics and along with the time the characteristics of women appear from him. The way he spoke changed, his gesture is also elegant, he wears cosmetics regularly, and he fall in love with a man.

danis 3.jpg

image source : here

In his transformation process, Lili Elbe comes as a dominant characteristic from himself. Lili elbe is a woman character from Einar Weneger. He is physically a male human being but his soul is woman.  The role of Einar Weneger as a man and a husband disappear. In one moment when his wife forces Lili Elbe to change into Einar weneger (dress up like a man), it causes Einar Weneger to torture. He surely realizes that he is a woman.

Again, what I like from this movie is the way Einar Weneger reveals his great desire to be woman. It is depicted clearly how somebody realizes what he like from himself, a very big desire, although crazy desire to change his soul. I would give a standing applause to the main character when he look herself in a mirror and imagine herself as women. The actor transfers his feeling greatly to the audience. For me, I could feel his longing from that scene.

The searching of identity or self-identification is a long process. Every day we try to figure of what we are. Simply, we realize what we like or dislike, what our dreams, our gestures in daily life, the way we speak, which when those combinations shape our personality. The searching of identity of Einar Weneger makes me feel pity for him. When he cries and makes decision to change himself as a woman forever. The process of Einar transformation is not easy. He got physical abuse from society and big disappointment from his wife. He is still struggling to get a new identity as a woman

In Indonesia, transgender issues are getting hot because one of Indonesian singer is allegedly a transgender. In Indonesia, LGBT is not a thing that considers being common. Many people still cannot accept them because our traditional culture and religion which decided the each function. There are just two genders Male and Female, nothing else. For me personally, I don’t agree about the concept of LGBT. Again, because in my tradition and my religion I know there are just two genders as a God creation; men and woman, nothing else. I don’t hate LGBT people, also I don’t know their story, I don’t have right to judge. Moreover, the higher virtue of all is Love. We have a responsibility to spread love not hatred.

AKHIR PEKAN DI MUSEUM MACAN

Wuits,, Museum Macan yang saya maksud dalam tulisan ini bukanlah museum mengenai hewan Macan, atau pedangdut yang bernama Trio Macan. Museum MACAN merupakan singkatan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Museum ini terletak di Jakarta Barat, tepatnya di AKR Tower lantai MM, Jalan Panjang No.5, Kebon Jeruk.

koleksi

IMG_20171230_144128Koleksi Museum

Museum ini mulai buka pada Bulan November 2017. Saya ingat ketika pertama kali membaca di portal online mengenai museum baru di Indonesia, saya langsung search di Google mengenai sejarah berdirinya. Singkat cerita museum ini didirikan oleh seorang pengusaha yang sangat menyukai karya seni lukisan.

IMG_20171230_150434IMG_20171230_143035
Pengunjung berpose di depan lukisan

Museum ini semakin terkenal berkat para netizen yang sering mengunggah foto dengan lokasi Museum MACAN, dengan background lukisan yang unik. Well, ketika saya berkunjung ke sana, saya melihat lebih banyak orang yang berpose di depan lukisan dari pada menikmati lukisan-lukisan yang ada. Apalagi dengan fakta bahwa museum ini masih baru, orang seakan-akan ingin memberitahu follower mereka bahwa mereka sudah mengunjungi Museum Macan. Upload, like, comment, the life of instagram pople!

Antrian pengunjung Museum MACAN sangat ramai. Sangat disarankan untuk mengecek jadwal buka museum dan membeli tiket secara online. Karena bila membeli tiket on the spot, pengunjung akan antri berjam-jam. Ada kemungkinan setelah antri berjam-jam, petugas akan mengumumkan bahwa tiket sudah habis. Untuk pembelian tiket secara online dan informasi harga tiket silahkan buka situs resmi Museum Macan di https://www.museummacan.org/. Kunjungan di museum dibagi-bagi menjadi beberapa waktu, dengan total kunjungan untuk satu tiket adalah dua jam saja. Bila Anda membeli tiket pukul 14.00, maka Anda keluar pada pukul 16.00.

IMG_20171230_143612.jpgPengunjung menikmati lukisan

Lukisan yang dipajang di dalam museum cukup banyak, namun tidak sebanyak yang saya bayangkan. Mungkin karena museum ini masih baru. Saya harap mereka akan menambah koleksi lukisan lebih banyak lagi, dan memajang lebih banyak lukisan-lukisan karya Anak Bangsa. Saya cukup menikmati lukisan- lukisan yang ada. Tidak sulit untuk memahami contemporary art menurut saya. Lukisan contemporary merupakan lukisan yang apa adanya, dilukis menurut zaman. Selamat menikmati akhir pekan, dan semoga belum basi, Selamat Tahun Baru !

Mendaki Gunung Gede Pangrango

Tepat dua minggu lalu saya dan teman-teman melakukan pendakian Gunung Gede Pangrango melalui Jalur Gunung Putri. Well, agak sediki nekat sih melakukan pendakian pada Bulan Oktober yang merupakan musim hujan. Berhubung saya dan teman-teman sudah merencanakan pendakian ini cukup lama, maka Kami tetap sepakat melakukan pendakian.

Singkatnya, tim pendakian ini terdiri dari 14 orang, dengan formasi 11 laki-laki dan 3 perempuan. Dengan jadwal perjalanan berangkat dari Jakarta hari Jumat pukul 23.00 malam menuju Gunung Puteri. Kami istirahat beberapa jam sebelum melakukan pendakian pada hari Sabtu jam 7.00 Pagi.

IMG_20171014_072131

Papan Petunjuk arah dari Gunung Putri

Sabtu pagi, kami melakukan persiapan singkat termasuk sarapan dan morning briefing. Cuaca cukup cerah dan suhu udara sudah mulai naik, lebih bersahabat dibandingkan suhu sabtu dini hari tadi. Saya sudah melepaskan jaket tebal saya, dan menggunakan jaket yang lebih tipis.

IMG_20171014_070633Wajib Lapor di pos SIMAKSI

Jumlah pendaki pagi itu sangat ramai, terlihat dari banyaknya peserta yang melakukan registasi ulang di pos SIMAKSI Gunung Puteri. Rata-rata pendaki yang datang berasal dari daerah JABODETABEK. Saya dalam hati membatin, “untuk dapat udara segar kita harus pergi sejauh ini” 😉 But dasar penduduk Ibukota yang butuh asupan udara segar, kami tetap saja datang menenteng carrier yang beratnya berkilo-kilo. Saya dan teman perempuan yang lain hanya membawa daypack saja, sedangkan ke-11 teman laki-laki bertugas untuk membawa carrier. So, pendakian tidak terlalu berat lah..

Sepanjang pendakian suasananya ramai, karena banyaknya orang dan banyak yang menyetel musik. Sampai ada yang niat bawa audio speaker buat kondangan. 😀 Senyum, sapa, dan pemberi semangat adalah hal yang sering saya jumpai walaupun dengan orang asing. Kalimat seperti “asal mana Mbak?”, “semangat mbak”, “mau minum dulu”, dan kalimat ramah tamah lainnya sering dijumpai dalam pendakian ini.

IMG_20171014_073453IMG_20171014_074718IMG_20171014_082629

Ramai Pendaki

Satu hal yang membuat saya kaget adalah ternyata di Gunung Gede, mulai  dari Pos I, Pos II, Pos 3, Pos 4, sampai puncak, ada tukang penjual gorengan, nasi uduk dan minuman. Ini hal baru bagi saya. Ketika akan mendaki, saya tidak mencari informasi dulu, karena sudah percaya dengan tim seperjalanan.

IMG_20171014_144957

Penjual Makanan dan Minuman

Setelah sembilan jam pendakian, kami sampai di alun-alun Surya Kencana. Kami memasang empat tenda untuk bermalam di sana. Suhu udara sangat rendah, saya sampai menggigil, begitupun anginnya bertiup sangat kencang. Berkat kekuatan sleeping bag, dan jaket tebal surprisingly saya dapat tidur nyenyak hehehehe.

IMG_20171014_165819

Surya Kencana Berkabut

Pukul 05.00 pagi saya dan teman-teman mendaki ke puncak untuk mengejar matahari terbit. Sekitar satu jam sepuluh menit Kami tiba di puncak saat sudah terang, dan perburuan fotopun di mulai. Seru deh, puas rasanya bisa sampai ke puncak Gunung Gede, melihat pemandangan yang sebegitu Indahnya juga menikmati udara yang segar. Walaupun kaki sakit selama 3 hari, saya tetap bahagia karena pengalaman ini. Kebahagiaan yang didapat ketika kita cinta dengan alam, dan alam balik mencintai kita itu tidak dapat diganti dengan cinta benda mati lainnya. Buktinya, ketika pendakian niatnya baik, alam membalas memberi udara segar  dan cuaca yang cerah selama pendakian,,, ahhhhh we Thank You God!

IMG-20171016-WA0009

Kaku karena kedinginan

NB: semua foto doc.pribadi.

BEB, SAY, CIN….

Okay, kalau dari judulnya saya sedang tidak bermaksud untuk menggoda seseorang loh ya.

Kata sapaan ‘Beb, say dan Cin’, sering digunakan dalam percapakan sehari-hari untuk menggantikan nama orang yang sedang kita ajak bicara.

“hay cin, apa kabar?, atau “Say, kamu mau ke mana”, atau “Beib, udah lama ya ga ketemu”.  Sapaan seperti ini tidak mengartikan bahwa orang yang kamu sapa adalah orang yang kamu cintai atau kamu sayangi.

 

22120260591_52f615b77e_b

Source: here

Awalnya saya bukan pengguna kata sapaan seperti ini. Saya sangat jarang memanggil orang dengan ‘Say’ atau ‘Cin’. Saat itu saya berfikir, Munafik banget kalau saya memanggil orang yang baru kenal dengan kata sayang atau cinta, padahal saya tidak sayang atau cinta dengan orang tersebut.

Namun seiring populernya kata sapaan ini, sadly saya jadi pengguna kata sapaan ini.

Manfaat yang digunakan sebagai  pengguna kata sapaan ‘Say’, ‘Cint’, atau ‘Beb’  based on my experience adalah:

  1. kata ini bermanfaat untuk menyapa orang yang kita lupa namanya. “Sayyyy, udah lama gak ketemu, kangen” padahal dalam hati bingung namanya Erni atau Reni yaaaa.
  2. Kalau bertemu dengan orang baru dalam suasana informal (kadang formal) dan seumuran, kata sapaan ini dapat membuat suasana lebih santai dan mengakrabkan, sometimes berpotensi mendapat kesan SKSD (SOK KENAL SOK DEKAT)
  3. ini nih,sapaan ini paling manfaat ketika kita bingung saat menyapa beberapa pegawai salon, dan bingung mau bilang mas ato mbak, tinggal ganti sapaan tersebut dengan SAY! “Say, mau potong rambut nih…”

 

Btw Cint, Kamu pengguna kata sapaan semacam ini gak??

 

 

Film Horor

Salah satu hal yang paling saya benci di dunia adalah film horor. Alasan utama saya membenci film horor tentu saja karena kehadiran hantu, musik yang ngagetin,dan cerita mistisnya. Terakhir kali menoton film horor, saya mengajak adik kosan untuk nonton bareng. Padahal si adik kosan sudah mengatakan kalo filmnya tidak teralu seram, malah cenderung lucu alias horor komedi. Saya awalnya juga bingung horor kok komedi. Memangnya apa tingkah si hantu yang bisa ditertawakan? Akhirnya setelah menarik adik kosan sebelah, film pun dimulai. Judul filmnya adalah Pee Mak Phra Khanong, yup dari judulnya saja sudah bisa ditebak ini adalah film Thailand. Ceritanya tentang seorang wanita yang menunggu kedatangan suaminya yang sedang melaksanakan wajib militer. Di saat penantian akan kepulangan suaminya, si wanita ini meninggal dalam keadaan mengandung. Saya sudah ngeri sendiri menonton filmnya karena menurut dugaan saya, istrinya akan menghantui si suami nantinya. Eh, ternyata dugaan saya meleset, film yang harusnya horor malah berubah menjadi komedi saat si istri ini menyembunyikan identitasnya sebagai hantu (mirip agen FBI).

bybw4mhcqaaysy4
image source : here

Saya memiliki kemampuan imajinasi yang cukup kuat, alasan lain saya tidak berani menonton film horor karena saya bisa meningat dan mengembangkan cerita horor itu di kepala saya. Alhasil saya bisa parno selama berhari-hari mengingat wajah si hantu. Karena itu, saya cenderung membatasi diri menonton yang horor-horor. Bahkan sebelum menonton film, saya cenderung membaca sinopsinya dulu di internet. Untuk meminimalisir cerita horornya hehe..

So, apakah kalian suka menonton film horor?

Pengamen yang Ngambek

 

Saya mau share pengalaman yang agak unik saat saya menumpang bus dari Jakarta menuju Bekasi.  Keberadaan pengamen di bus-bus  kota memang tidak bisa dihindari. Ibarat dimana ada bus, penumpang, maka pengamen akan langsung nyelinap naik untuk memamerkan kemampuan mereka dalam bernyanyi dan mendapatkan recehan demi recehan pastinya.

Saya agak tidak setuju sebenarnya mengenai keberadaan pengamen di Bus-bus kota. Keberadaan mereka kadang membuat masyarakat “dipaksa” untuk mendengarkan musik/ lagu yang sedang tidak ingin di dengar. Jadi mau tidak mau penumpang bus harus mendengar lagu yang mereka nyanyikan. Di satu sisi,  saya juga bingung dimana lagi tempat mereka untuk mencari receh demi receh dengan modal suara dan alat musik yang seadanya.  Kalau cafe atau restoran-restoran tertentu tentunya punya standar tersendiri dalam menyediakan penyanyi untuk menghibur pelanggan mereka.

Nah, balik lagi mengenai masalah pengamen ngambek ini. Saya ingat seorang pengamen laki-laki masuk ke bus dari depan daerah semanggi. Pengamen tersebut memberi kata-kata pembuka sebelum menyanyikan lagu-lagu andalannya. Dia berdiri tepat di pertengahan gang bus, agar semua penumpang dapat mendengar suaranya. Di posisi tenggah, tepat di hadapan pengamen ini duduk tiga orang gadis (seperti anak kuliah yang baru pulang) yang sedang seru-serunya bercerita.

pengamen 2

Image source : http://s27.postimg.org/kzwnt56tv/ogxgkz.jpg

Pengamen ini mulai menyanyikan lagu dalam berbahasa Indonesia. Menurut saya suaranya juga lumayan bagus. Seiring perjalanan dan sudah masuk daerah tol, suara pengamen ini masih setia menemani perjalanan penumpang dari Jakarta-Bekasi.  Di dalam Bus penumpangnya cukup banyak, namun tidak berisik. Tetap yang masih terdengar hanya beberapa perbincangan antara tiga anak kuliahan tersebut berpadu dengan suara pengamen tersebut.

Menjelang mendekati Jati Bening, pengamen tersebut menghentikan lagunya sambil memarahi ketiga anak kuliahan tersebut. Inti dari kalimatnya yang saya tangkap seperti ini “ Mbak, dari tadi saya lihat kalian berisik sekali. Nggak menghargai saya yang sedang menyanyi. Suara kalian mengganggu penumpang yang lain. Mikir dong kalian, saya sedang cari nafkah di sini. Kalau tidak mau dengar ya sudah, sayapun tidak akan meminta uang kalian kok “ (versi diperhalus).

Pengamen tersebut duduk ke belakang dan memang tidak meminta sepeserpun kepada penumpang. Namun yang menjengkelkan saya, pengamen tersebut duduk di belakang sambil tetap bercerita dengan suara yang keras betapa kecewanya dia dengan orang yang tidak menghargai orang lain, betapa jeleknya sifat tiga orang anak kuliahan tersebut.

Saya bingung dalam kasus ini sebenarnya yang salah siapa ya? Pertama-tama di dalam bus jelas-jelas ada peraturan pengamen dan tukang jualan dilarang naik demi kenyamanan penumpang. Di satu sisi tiga orang gadis tersebut adalah penumpang yang punya hak sebebas-bebasnya untuk bercerita dengan teman-temannya. Masalah berisik atau berisik mereka bercerita satu sama lain tergantung pendapat masing-masing penumpang. Menurut saya tingkat keberisikannya masih dalam tahap wajar kok.

Begitulah cerita pengamen yang ngambek, lelah di sore hari membuat emosinya tinggi, uangpun tidak jadi didapat, semoga di bus berikutnya pengamen ini mendapat rejeki yang melimpah ya… 🙂