Farm House Lembang

It is Holiday here in Indonesia!

Dalam rangka merayakan moment libur lebaran saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bepergian ke luar kota. Pilihan kota kali ini adalah yang dekat-dekat saja. Saya dan keluarga memutuskan pergi ke tempat wisata yang lagi hitz di Bandung. Kali ini kami pergi ke Farm House Lembang. Setelah saya mengumpulkan data dari internet, saya cukup kaget karena biaya masuk ke Farm House Lembang cukup murah yaitu 20.000 rupiah.

Untuk menuju Farm House Lembang ini cukup mudah, Karena lokasinya terletak di Jalan Raya Lembang. Tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Namun, hal yang membuat kami lama sampai di tempat adalah karena banyaknya pengunjung yang datang ke tempat ini. Karena terlalu banyak jumlah kendaraan yang menuju Lembang, Petugas Polisi  Lalu Lintas melakukan rekayasa jalan, dengan membuat one way rute.

Menikmati suasana Farm House Lembang di saat Lebaran ternyata kurang tepat. Pengunjungnya benar-benar ramai, kebanyakan pengunjung datang dari luar kota. Untuk mencari parkiran mobil saja, kami memakan waktu sekitar 10 menitan.  Dari parkiran, kami kemudian berjalan kaki menuju farm house.

Dengan tiket seharga 20.000 pengunjung dapat menikmati spot-spot cantik untuk berfoto di dalam. Spot fotonya berupa bangunan ala Eropa, Rumah Hobbit, Rumah dengan suasana Amerika, dan suasana peternakan. Mungkin tempat wisata ini dibangun untuk memuaskan hasrat orang Indonesia yang doyan foto (laugh). Bayangkan saja, untuk berfoto di depan Rumah Hobbit Kami harus mengantri panjang!

IMG20160706154417[1]

salah satu spot foto di sana, ini hanya 1 dari sekian 😛

Oh ya, ternyata tiket yang kita beli tadi dapat ditukarkan dengan susu segar atau  makanan yang ada di resto/ café. Kita cukup memberikan voucer makanan (yang berupa tiket masuk tadi), dan menambahkan nominal  harga yang kurang. Namun, saya kurang tau berapa harga satu tiket bila ditukarkan dengan makanan.  Tiket yang saya punya, saat itu saya tukarkan dengan satu gelas susu. Satu tiket berlaku untuk pengambilan satu gelas susu segar. Tersedia tiga varian rasa susu, yaitu rasa strawberry, coklat, dan plain. Yuumm jalan-jalan sambil minum susu segar…  TOP DEH!

IMG20160706143149[1]

Ini dia welcome drinknya, saya paling suka plain milk. Kalau yang lain sukanya susu dengan rasa.

 

Kalau kamu, apa kegiatan kamu saat libur lebaran?
Sekalian saya mau mengucapkan Happy Eid Mubarak untuk teman-teman yang merayakan 🙂

Buang Sampah Sembarangan

Beberapa hari belakangan, saya kesal sekali pada orang-orang yang buang sampah tidak pada tempatnya. Sepertinya hal yang wajar ya buang sampah sembarangan di Indonesia. Di jalanlah, di angkutan umumlah, atau bahkan di depan rumah orang. Buang sampah sembarangan itu sebenernya tindakan yang tidak bermoral loh. Tindakan amoral bukan hanya membunuh, memperkosa, dan melakukan kekerasan saja. Buang sampah sembarangan itu kan membunuh dan memperkosa bumi. Walaupun istilahnya sudah klise dan sering digunakan, sepertinya orang-orang sudah kebal dengan himbauan “buanglah sampah pada tempatnya” dan “kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Kemaren ada mbak-mbak cantik dengan make up yang bagus sedang kepanasan, dan mengelap keringat dengan tisunya. Abis ngelap keringatnya, si mbak malah buangin tisunya gitu aja. Ihhh- jadilah dia gak cantik lagi di mata saya. Kemudian, ada anak-anak yang bilang ke mamanya kalo minuman kemasannya udah abis dan si ibu dengan entengnya bilang “buang aja sampahya dari jendela dek”. Gimana anaknya bisa bersikap benar, kalo ibunya aja perlu diajari untuk tidak membuang sampah sembarangan?

62196210585buang-sampah

Image source: here

Dan satu lagi yang nyebelin, saya ingat ketika ada bapak-bapak  membuang sampah dari jendela mobilnya  di  jalan raya setelah keluar dari jalan tol.  Mobil mewahnya ternyata tidak berbanding lurus dengan sifatnya. Mungkin si Bapak berfikir “ gak apa-apa jalan raya kotor, yang penting mobil mewah saya tetap bersih”

13735152341884622577

Image source: here

Miris sekali melihat kesadaran masyarakat kita masih minim dalam hal membuang sampah. Tidak peduli berapa banyakpun tempat sampah yang telah disediakan, kita masih lebih suka melempar sampah dari jendela mobil. Gak heran sih, banjir sering terjadi di Indonesia, khususnya kota besar. Soalnya masyarakatnya sendiri tidak peduli dengan lingkungannya.

Hmm, gimana dengan kamu, kesal gak melihat orang yang buang sampah sembarangan? Atau malah biasa saja?

Pengamen yang Ngambek

 

Saya mau share pengalaman yang agak unik saat saya menumpang bus dari Jakarta menuju Bekasi.  Keberadaan pengamen di bus-bus  kota memang tidak bisa dihindari. Ibarat dimana ada bus, penumpang, maka pengamen akan langsung nyelinap naik untuk memamerkan kemampuan mereka dalam bernyanyi dan mendapatkan recehan demi recehan pastinya.

Saya agak tidak setuju sebenarnya mengenai keberadaan pengamen di Bus-bus kota. Keberadaan mereka kadang membuat masyarakat “dipaksa” untuk mendengarkan musik/ lagu yang sedang tidak ingin di dengar. Jadi mau tidak mau penumpang bus harus mendengar lagu yang mereka nyanyikan. Di satu sisi,  saya juga bingung dimana lagi tempat mereka untuk mencari receh demi receh dengan modal suara dan alat musik yang seadanya.  Kalau cafe atau restoran-restoran tertentu tentunya punya standar tersendiri dalam menyediakan penyanyi untuk menghibur pelanggan mereka.

Nah, balik lagi mengenai masalah pengamen ngambek ini. Saya ingat seorang pengamen laki-laki masuk ke bus dari depan daerah semanggi. Pengamen tersebut memberi kata-kata pembuka sebelum menyanyikan lagu-lagu andalannya. Dia berdiri tepat di pertengahan gang bus, agar semua penumpang dapat mendengar suaranya. Di posisi tenggah, tepat di hadapan pengamen ini duduk tiga orang gadis (seperti anak kuliah yang baru pulang) yang sedang seru-serunya bercerita.

pengamen 2

Image source : http://s27.postimg.org/kzwnt56tv/ogxgkz.jpg

Pengamen ini mulai menyanyikan lagu dalam berbahasa Indonesia. Menurut saya suaranya juga lumayan bagus. Seiring perjalanan dan sudah masuk daerah tol, suara pengamen ini masih setia menemani perjalanan penumpang dari Jakarta-Bekasi.  Di dalam Bus penumpangnya cukup banyak, namun tidak berisik. Tetap yang masih terdengar hanya beberapa perbincangan antara tiga anak kuliahan tersebut berpadu dengan suara pengamen tersebut.

Menjelang mendekati Jati Bening, pengamen tersebut menghentikan lagunya sambil memarahi ketiga anak kuliahan tersebut. Inti dari kalimatnya yang saya tangkap seperti ini “ Mbak, dari tadi saya lihat kalian berisik sekali. Nggak menghargai saya yang sedang menyanyi. Suara kalian mengganggu penumpang yang lain. Mikir dong kalian, saya sedang cari nafkah di sini. Kalau tidak mau dengar ya sudah, sayapun tidak akan meminta uang kalian kok “ (versi diperhalus).

Pengamen tersebut duduk ke belakang dan memang tidak meminta sepeserpun kepada penumpang. Namun yang menjengkelkan saya, pengamen tersebut duduk di belakang sambil tetap bercerita dengan suara yang keras betapa kecewanya dia dengan orang yang tidak menghargai orang lain, betapa jeleknya sifat tiga orang anak kuliahan tersebut.

Saya bingung dalam kasus ini sebenarnya yang salah siapa ya? Pertama-tama di dalam bus jelas-jelas ada peraturan pengamen dan tukang jualan dilarang naik demi kenyamanan penumpang. Di satu sisi tiga orang gadis tersebut adalah penumpang yang punya hak sebebas-bebasnya untuk bercerita dengan teman-temannya. Masalah berisik atau berisik mereka bercerita satu sama lain tergantung pendapat masing-masing penumpang. Menurut saya tingkat keberisikannya masih dalam tahap wajar kok.

Begitulah cerita pengamen yang ngambek, lelah di sore hari membuat emosinya tinggi, uangpun tidak jadi didapat, semoga di bus berikutnya pengamen ini mendapat rejeki yang melimpah ya… 🙂

 

 

The Bad Impact of Advertisements

 

Besides of the TV programs like news, movies, and music programs, we can find information from the TV advertisements (ads). The major purpose of TV ads is to promote a thing or service. However everything has progressed day by day include the TV ads. TV ads not only as a media to promote something but more than it, TV ads can influence people to do or not do something. TV ads in Indonesia nowadays are more harmful than helpful for the audience aware or unaware.

According to Jeremiah O’Sullivan R, author of “the Social and Cultural Effects of Advertising”, persuasion is core mission of advertising. Advertising tells you how the product service or idea you are considering will improve your life. The ways people promote their product nowadays just make me ashamed as an Indonesian people. They persuade people to use one product by teasing other products. For example is herbal product is teasing another product. They are teasing each other by slogan, making joke to another product with change their product slogan. Yes, sometimes it is funny and entertain but the bad impact is people will tease another’s because it is familiar on TV. Teasing each other’s is not a big deal, because people will think it is funny and not wrong, and people will use it in daily conversation. We know that TV is the fastest media which can influence the society.

Freedom of choice and advertising-supported entertainment which is often a promoter of social change, are two important components of society that are both promoted through advertising. Because ads can give the fastest effect to social change, it is good if the ads are not identifying the racism. We know that Indonesia is a multicultural ethnic nation. We can see many colors in Indonesian life. We can see on TV that many ads usually hurting other tribes. For example is a cosmetic slogan “white is beautiful”. In my opinion this advertisement is not understand of their marketing object. It is inappropriate to Indonesian people, what about The Papua tribe which is born with black skin? Should they use the cosmetics to be beautiful? It is better if the ads in Indonesia show their respect to every tribe by making a very careful ads slogan on TV.

In fact, according to Megan Vande Kerckhove, a student at the University of Florida’s Interactive Media Lab, advertising is free speech, and it can work to promote free speech. TV ads usually use the rude word to promote their products, and it  influence people to use those words in daily conversation. Children will talk just the way they want to and not respectful. The creative teams of ads try to make the ads interesting by using the rude words. In my opinion, creative is not an excuse to be impoliteness. We have to realize that we are Indonesian people; we learn manners, norm, and religious.

Based on those facts it is logic when I say that TV ads in Indonesia are more harmful than helpful. Ads can influence people to use something or to say something. We need to distinct the policy of TV ads in Indonesia, to reduce the bad impact of TV ads. The good ads should not give a bad influence to others people, but giving a good influence to do or say something.

References:
Morley, Miranda. The Effects of Advertising. (Online)
smallbusiness.com
accessed on 16 May 2013

Stefan, tracy.  2007. Function and effect of Advs. (Online)
Smallbusiness.chron.com
accessed on 17 may 2013

Tanpa Putih Abu-abu Lagi

bali1

Kita masih belum tau apa yang akan kita hadapi
Karena bila ada sedikit masalah, kita langsung bersama-sama menyelesaikannya
Dan tertawa bersama mengenai hal lucu yang sebenarnya sederhana
Kita terlau santai menghadapi masa depan seolah
Dia akan selalu berbaik hati pada kita yang riang ini
Aku juga suka mengingat pertengkaran-pertengkaran kecil kita
Seperti biasa, awalnya dimulai karena emosi di masa labil kita
Selalu ingin kelihatan paling
Kau mengagumiku
Dan aku mengagumimu
Kau ingin seperti aku, dan aku ingin sepertimu
Wah, betapa kita berdua egois terhadap emosi kita
Yang penting adalah bahagia dan saling melengkapi dimanapun kita berada

Setiap pertengkaran kita adalah perekat persahabatan kita
Setiap petualangan kita adalah pelajaran kita
Sampai ketika kita harus berjalan masing-masing ke masa kedewasaan tanpa ada aku
Dan tanpa ada kau
Tidak ada kata kita
Karena kau merencanakan masa depanmu di sana
Dan aku merencanakan masa depanku di sini
Rindu tapi hangat rasanya ,membayangkan betapa beraninya kita di masa remaja
Dan betapa pengecut dan hati-hatinya kita dimasa dewasa
Walaupun jauh, kau tetap ingat kebiasaanku
Dan aku tetap ingat kelakuan sikap burukmu yang hanya dapat dipahami oleh sedikit orang
Kau bilang berbeda kalau tidak denganku
Namun tahukah kau jika hari ini aku marah padamu, semua itu karena aku sayang padamu
Sahabat bukan hanya masalah sehari bersamamu,dua hari, atau seterusnya
Sahabat adalah bagian dari dirimu yang tidak selalu mendukungmu, kalau dia tau kau salah
Bagian dirimu yang sedih jika kau bersedih
Bagian dirimu yang tertawa ketika kau gembira
Jadi walaupun terpisah jauh, bukankah kita masih dapat saling mengandalkan?
Dunia yang luas ini,
Dunia yang dewasa ini
Aku tidak berani jika berjalan sendiri
Dukung aku, doakan aku
Sahabatku

By: Krisnawati Sigiro

Tertawalah di Pulau Bali

Pernah dengar kalimat seperti ini; apa yang kamu tertawakan sekarang akan balik menertawakan kamu nantinya. Kalimat ini terjadi dalam sebuah pengalaman liburan seru yang tidak akan terlupakan oleh saya dan teman-teman.

Perasaan luar biasa kagum saya rasakan di saat menjejakkan kaki di Bali. Bali merupakan Provinsi yang mempunyai gaya hidup dan kebiasaan yang kental dengan kepercayaan agama dari leluhur mereka. Untuk sesaat saya merasa terasing seperti berada di negeri orang ketika melihat para penduduk Bali yang mayoritas Hindu berpakaian tradisional sedang sembahayang dan memberi persembahan kepada leluhur mereka. Ini luar biasa sekali! Itu yang saya serukan di dalam hati ketika melihat budaya mereka yang teguh dan selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali. Mungkin karena alasan itulah pengunjung domestik dan mancanegara setuju bahwa Bali merupakan pulau yang tidak pernah bosan untuk dikunjungi.

Kembali ke cerita liburan saya, ketika itu saya dan teman-teman memutuskan untuk melihat sunset di sebuah caffe di Seminyak. Awalnya tempat itu direkomendasikan oleh seorang teman yang berdomisili di Bali. Dan seperti yang sebelumnya saya ungkapkan, tempat ini indah sekali! Saya merasa bahwa Bali adalah tempat matahari untuk berpulang. Bola api yang merah menyala itu benar-benaar menghipnotis saya dan semua pengunjung melihat keelokannya saat akan pulang ke peraduannya. Biar saya jelaskan mengapa ini adalah pemandangan yang luar biasa bagi saya. Saat itu saya duduk di sebuah sofa empuk di pinggir pantai bersama tiga teman saya dengan payung warna-warni diatas kepala kami, hembusan angin sore yang sejuknya mengimbangi panas Pulau Bali, musik yang mempermanis suasana pantai dan lebih dari itu di hadapan saya laut membentang seperti karpet mempertontonkan saat si matahari pulang ke peraduannya dengan anggun dan perlahan. Sungguh ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan!

Walaupun duduk berlama-lama di tempat ini, saya tidak akan bosan. Penyanyi yang tampil di tempat ini benar-benar tau cara menghibur pengunjungnya. Mereka menyanyikan lagu Indonesia maupun mancanegara dan terkadang mengundang pengunjung untuk menyanyi bersama. Kamu akan banyak tertawa di Bali. Melihat pemandangan pantai yang indah, berlari-larian di pinggir pantai, dan melihat matahari terbenam.

Selesai mengunjungi Pantai Seminyak, saya dan teman-teman beranjak menuju ke tempat selanjutnya yaitu Jalan Legian. Jalan legian ini terkenal akan club maupun deretan pertokoannya yang ramai. Ditengah riuhnya candaan orang-orang dari berbagai negara tempat ini pernah memberikan sejarah kelam terhadap keamanan Bangsa Indonesia yang sampai sekarang masih lekat diingatan. Jalan Legian ini pernah mengalami peristiwa terorisme yang lebih dikenal dengan tragedi Bom Bali pada tahun 2002 dan 2005. Saat saya berkunjung ke monumen korban tragedi Bom Bali, ada perasaan haru terhadap korban-korban yang meninggal.

Berjalan mengunjungi setiap pertokoan di antara banyaknya orang dan ramainya jalan menjadi hal yang mengasyikkan. Jalan Legian memang terkenal akan kemacetannya apalagi saat malam hari ketika orang-orang mulai bereksplorasi tentang apa yang Bali sediakan di malam harinya. Sedangkan saya dan teman-teman yang sudah mengitari pertokoan dan berbelanja aksesoris cantik buatan Bali memutuskan untuk duduk mengistirahatkan kaki di sebuah minimarket di Legian. Di sinilah hal lucu terjadi saat saya dan teman-teman duduk di sebuah meja kosong di sebelah para pemuda Bali dan pemuda Asing sedang bercerita tentang topik yang saya tidak mengerti. Saya beranjak untuk membeli mie instan dan menyeduhnya di bagian cashier, kemudian kembali ke meja di mana tiga teman saya berkumpul. Saya melihat mereka tertawa terbahak-bahak. Saya yang tidak mengetahui apa yang mereka tertawakan menjadi penasaran. Meletakkan mie instan di meja, saya bertanya kenapa mereka tertawa begitu kencangnya. Teman saya mengambil nafas sebentar, kemudian menceritakan kejadiannya. Teman saya merupakan seorang gadis keturunan Tionghoa yang cantik, dia mempunyai kebiasaan bertopang dagu ketika memikirkan sesuatu. Nah, saat dia bertopang dagu dia tidak menyadari bahwa lurus dengan tatapannya ada seorang pria tua berkewarganegaraan Asing yang duduk. Pria itu menjadi salah tingah saat merasa ditatap oleh teman saya. Pria tua itu kemudian bangkit dari kursinya kemudian mengeluarkan handphonenya dan memfoto teman saya. Dia yang tidak mengetahui apa-apa merasa kaget, sedangkan dua teman saya tertawa terbahak-bahak. Teman saya menunjuk seorang lelaki tua yang masih berdiri di depan pintu minimarket dan saya melihat seorang pria tua beruban sedang mengerlingkan mata sambil berkata “beautiful” ke arah teman Tionghoa saya. Saya langsung tertawa terbahak-bahak seperti teman saya sebelumnya. Seorang pria warga negara asing yang sudah tua menyukai teman saya yang masih duduk di bangku kuliah! Lucu sekali! Teman saya sempat kesal kepada saya ketika saya terus meledeknya.

Saya mengaduk mie instan yang sudah matang saat kemudian seorang di samping meja saya berkata “hei you”. Ketika merasa yang dipanggil bukan saya, saya masih tetap saja menunduk dan mengaduk mie instan saya, kemudian suara di samping saya berkata lagi “hei you”.

“Mbak teman saya manggil”, seorang pemuda yang merupakan orang Bali berkata dalam Bahasa Indonesia kepada kami berempat.

“you look beautiful, where do you come from? Dia melanjutkan dan bertanya kepada saya yang sedang menggeleng-gelengkan kepala terhadap tingkah pria Bule tersebut.
Saya masih diam namun dia masih tetap berbicara dalam Bahasa Inggris, “Holland? You look beautiful”.

Saya hanya menanggapi dengan tersenyum singkat kemudian bertanya kepada temannya yang merupakan orang Bali “temen kamu mabuk ya?” saya curiga pria tersebut sedang mabuk melihat banyak botolan bir di meja mereka.

Pria asing tersebut bertanya kepada temannya apa yang saya tanyakan. Dan yang membuat saya lebih kaget adalah saat temannya berkata kepada pria asing tersebut “she likes you”. Teman-teman saya tertawa begitupun dengan teman-teman pria asing tersebut. Sedangkan saya hanya melongo mendengar penuturan lelaki Bali tersebut. Dan teman saya ikut menertawakan saya?!

Sampai kemudian hal yang lebih memalukan terjadi ketika dia tiba-tiba melantunkan potongan lagu Bruno Mars. “….cause you’re amazing just the way you are..” teman-temanya tertawa dan bersorak dengan riangnya sambil bertepuk tangan sementara saya menunduk malu karena diamati oleh ibu-ibu berkerudung di belakang kami.

Para lelaki tadi kemudian beranjak pergi, mereka berdiri sambil mendiskusikan ‘next destination’ ke teman-temannya. Mereka keluar melewati kami, sambil lewat si pria bule meniupkan ciuman melalui tangannya dan berkata “bye-bye”. Saya hanya tersenyum masam ketika teman-teman saya tertawa dengan hebatnya. So, inilah dia tertawa dan ditertawakan. Seperti yang sebelumnya saya ucapkan, “kamu akan banyak tertawa di Bali”.

This was captured on January.

This was captured on January.

The Modernity and Culture Called Jogjakarta

“Since when people became too busy and forget about this fact, this event and this moment?”


The train was stopped in Lempuyangan Station. Rain fall hardly when we stepped our feet. Welcome again to Jogjakarta, the City of Art.
Breathe freely without stress. The purpose from this journey is for killing all the boring times and getting the new experience of life. Come to Jogja, feel the mixture of modernity and culture. Alive, breathe, and feels your heart beats. It is amazing. My friend and I were traveling in Jogja for five days. We explore the exotic of Prambanan temple, Ratu Boko temple, Vredeburg castle, Keraton and of course Beringharjo-the traditional market. If you think it is familiar to read the story like that I agree, but here I reveal one side of those, the mixture of happiness, modernity, and ancient called as awareness.

The first place that we visited in Jogja was The Prambanan temple which is making me feels amazing. The place is big, very large, and near from the traditional market, road, and busy activities. Seems strange, like looking a traditional house in modern residence. Unique and you cannot see that view everywhere.
Before entering the Temple you are necessary to using a kind of traditional saroong, the employee will help you to wear the sarong. The building there was beautiful; I enter one by one the temple. There was dark, but I can see the cracks of the temple that make me feel afraid. Even the employee will give us helmet, I still feel afraid of the building condition. How amazing the history of Indonesia, this is a big heritage of Indonesia. Indonesian people should make sure to keep this culture heritage exist. Not only Indonesian people, many tourists from other country come to this temple. I decided to break for a while in the temple stairs and watching people taking photograph with SLR camera or digital camera. I got something interesting in the corner of the temple when an old man sitting to taking a rest. He is using a uniform, hold a camera and I know that he is a photographer of this place. His face look tired, maybe this man confuse because today he just take a little of photo. People are bringing their own camera, so they do not need him to taking photo. I observe this man for several times and still, people do not asking him for taking a picture.jogja1
The development of time not always gives a good impact for every people. There is a particular side which is forgotten because time flies so fast. People choose to capture their moment by their own camera, and the photographers which are paid by their blitz are forgotten.
The Cracks in Prambanan Tempe looks same as the cracks of the time. People just wait for the time when something or someone is forgotten.This awareness came to my mind in that place, stairs of Prambanan Temple, Jogjakarta.

Go traveling does not mean you have to spend much of your money. My friend and I have to calculate everything before bought something. For example before go to Prambanan Temple, we bring our own snack so we do not need to buy something in Temple’s area because it cost expensive.
Enjoying Jogja city atmosphere, see the activity of this ‘city of art’ is a good experience in Jogjakarta. I sit in one of chair in public place, staring to the building, the road and the people. There are several colonial building which is still exist and used as post office and bank. Luckyly, that day rain was not fall and the wind fresh breeze. So, my friend and I can enjoy our time and sit without worrying anything. Traffic in Jogjakarta is heavy, there are many traffic lamps and the timer is so long. I was looking the cars and the motorcycles; they are racing with the time, while I sat in the corner of Jogjakarta and enjoyed the song from the street singer. I was hearing their song, sometimes it is in Indonesian Language or sometimes it is Javanese. The traffic lamp changed to red, the cars were stopped while the people crossed the street. The traffic lamp changed to green, and the cars started to run again. In the crowded, a problem was happened when a delman trying to cross the street. In Jogjakarta delman is used to be a public transportation even in the capital city. It is so funny, two transportation with different fuel and velocity in same road. Modern versus traditional. Which one is will win? And which one will be
forgotten?

Talk about the street artist, you can meet them almost in across the Malioboro Street or in the KM 0 (zero Kilo Meter).    There are street singer, dancer and tattoo artist. I made one temporary tattoo in my left hands, and I like the picture. The combinations of those artists make the atmosphere of Jogjakarta come alive. Since when people became too busy and forget about this fact, this event and this moment? Does every people there realize that the artist want to keep their culture by singing Javanese song and dancing the traditional dance? I will regret if I just come and go traveling to Jogjakarta without knowing the street, the street artist, and the crowded. The heartbeat of Jogjakarta is here, in every corner of the street.